2008 diwarnai hebohnya Laskar Pelangi

Siapa sangka berdasarkan kisah yang dipaparkan oleh Andrea Hirata yang sangat mengagumi Bu Muslimah, menjadikannya penulis novel paling disorot saat ini, buah karya yang dihasilkannya, Laskar Pelangi merupakan novel paling fenomenal, hingga Riri Riza bersedia mengangkatnya ke layar kaca. Walaupun ada hal-hal yang masih dianggap kurang dari apa yang diangkat, tapi perlu kita acungi jempol, setidaknya film juga tidak bisa menterjemahkan isi novel secara keseluruhan, dimana satu rol filmpun tidak akan memuat seluruh isi cerita dalam novel tersebut bukan?

Cuplikan Film:

 

 

Apa yang menyebabkan sebuah cerita sedehana seorang Andrea begitu membukau, intinya adalah sebuah ketulusan pemaparan yang disampaikan, cerita yang dialaminya sendiri, baik suka maupun duka, bagaimana sebuah hiburan dan seni tercipta secara bersamaan, "Saya bukan pujangga", begitu Andrea menegaskannya beberapa kali, sama seperti puisi saya Aku bukan seorang Pujangga, bagaimana seorang yang bisa menciptakan sebuah karya fenomenal masih berendah hati mengatakannya, dan dia binggung sendiri bisa melihat kesuksesan film yang di ramu oleh Riri Riza akan sebagus hasilnya yang kita tonton di bioskop-bioskop.

Film yang juga memberikan pencerahan untuk kehidupan kita, setidaknya bagus untuk konsumsi orang kota yang terlalu hidup Urbanis, dan metropolis yang perlu melihat ke bawah dan merenungi, bahwa banyak diantara masyarakat Indonesia ini masih harus berjuang lebih untuk bisa meraih cita-citanya, bahkan harus berjuang dengan lebih keras, walaupun banyak disekeliling mereka dapat membantu, hanya bisa menjadi penonton setia, menunggu kapan ceritanya berakhir.

Ini sebuah perjuangan yang harus diresapi para pendidik di Indonesia sekarang ini, berapa banyak orang seperti bu Muslimah?, berapa banyak mereka yang bisa mengabdikan dirinya secara tulus untuk mendidik bangsa ini?, tanpa harus memikirkan berapa yang mereka dapatkan setelah mereka mendidik anak-anak ini. Jangan salah banyak sekali orang-orang pendidik kita yang mulai sukses dan juga lupa tentang bagaimana mengabdikan diri lewat hatinya bukan lewat berapa yang saya akan hasilkan. Setidaknya Allah akan memberikan balasan yang setimpal nantinya dari apa yang pernah kita berikan.

Masih ingat Presiden dan jajarannya Nobar untuk bersama-sama melihat hebohnya Laskar Pelangi, atau mungkin beliau mendengar himbauan saya di pembahasan lalu? , semoga saja, karena ini yang harus mereka lihat, mereka resapi, bahwa Pe-er mereka masih banyak, bukan melihat hanya sekedar industri film sudah memberikan sumbangsih yang besar pada negeri ini sejak tahun 2002, atau bahkan memuji para senias film yang makin memarakkan perkembangan entertainment di Indonesia, tapi juga pe-er tentang pengentasan kemiskinan, yang sekarang menjadi PE-ER besar, dan juga menciptakan pendidikan murah yang semakin jauh saja dari jangkauan walaupun sudah ada BOS (Bantuan Operasi Sekolah) yang diberikan pemerintah, tapi tahukah bahwa penyelewengan-penyelewengan masih berjalan bebas, lenggang kangkung sambil tertawa diatas penderitaan para murid miskin ini?.

Negara ini besar, kaya dan mungkin kalau saja pemimpinnya bisa lebih memanage pemerintahannya lebih baik, dan bisa menyadarkan masyarakatnya, tidaklah mungkin kita bisa menjadi negara super power lebih dari Amerika yang sumber daya alamnya sangat kecil dibandingkan kita. Yang kita lihat di film ini juga bagaimana kita boleh bermimpi, boleh sampai setinggi langit, tapi setidaknya kita tidak hanya bisa bermimpi, tapi juga harus bisa menjadikannya nyata, makna-makna sosial dan estetika dirangkum dalam sebuah cerita film yang menghebohkan tahun ini, walaupun film serupa pernah ada, yaitu Denias.

Kalau kita selidiki, film-film sederhanalah yang bisa menyedot antusias masyarakat, bahkan bisa menjadi film terbaik dalam tahun penayangannya. Kesederhanaan, realita, perjuangan, dan ketulusan masih menjadi point penting dalam dua film anak-anak ini. Kita berharap saja kehebohan yang terjadi bukan berhenti begitu saja, dan senias film kembali berkutat pada film-film horor atau komedi, tapi juga memberikan warna baru, terbukti malah jenis film ini lebih menyedot penonton bahkan sudah memecahkan rekor dibeberapa hari penayangannya.

No Responses to “2008 diwarnai hebohnya Laskar Pelangi”

No comments yet

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>